Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Viral Kisah Gangbang Iswani Bersama 2

Viral Kisah Gangbang Iswani Bersama 2

 Aopok.com - Rasa lapar membangunkanku, kulihat Iswani menonton TV dengan memakai daster.

“Mbak jam berapa ini?”, tanyaku padanya.
“Sudah jam 9 malam”, jawabnya.
“Yuk cari makan malam!”, ajakku padanya.
“Buka saja bungkusan itu, tadi sudah kubelikan, makan aja sendiri, aku sudah”, kata Iswani.
“Tumben, Mbak kok baik banget, makasih ya”, kataku memujinya sambil membuka bungkusan makanan yang berisi nasi sambal dan ayam goreng.


Karena sangat lapar maka aku makan dengan lahap dan cepat bak orang rakus. Setelah habis baru kurasakan pedasnya menempel di bibir tak mau segera hilang.
“Ssh huah, kok pedes banget sih Mbak, sambel apa itu tadi?”, tanyaku penasaran.
“Cuma sambel biasa, masa pedas sih, tadi aku tambahin semua sambalku ke bungkusanmu, kukira kamu suka pedas”, jawab Iswani sambil tertawa.
Kucoba gosok gigi dan mendekatkan bibirku dengan lubang keluarnya angin dari AC untuk segera menghilangkan rasa pedas dibibirku juga tak berhasil. Iswani yang melihat tingkah polahku semakin tertawa. Karena jengkel aku keluar kamar dan merokok diluar, pasrah dengan keadaan bibirku yang masih kepanasan.

Satu jam mengangin-anginkan bibir di teras kamar, aku merasa lebih baik. Kembali ke kamar kulihat Iswani masih rebahan di ranjangnya melihat acara TV. Melihat botol aqua yang masih ada isinya diatas meja kamar, aku jadi teringat vitamin C yang ada di tasku. Kuambil sebutir vitamin C dari dalam tas lalu kuambil gelas dan kumasukkan vitamin tersebut kedalamnya setelah kutuangkan aqua.
“Kamu minum apa Tok?”, tanya Iswani ingin tahu.
“Vitamin C Mbak, mau?”, tanyaku kembali sambil menenggak habis vitamin C-ku.
Iswani hanya menggelengkan kepala tanda tak berminat. Tergoda oleh panggilan kasurku yang kosong, aku segera merebahkan diri keatasnya dan kutarik selimutku.
“Keterlaluan kamu Tok, baru bangun sudah mau tidur lagi!”, komentar Iswani.
“Habis mau apa lagi Mbak jam segini, jalan-jalan juga sudah sepi, toko-toko sudah tutup, pasar juga belum buka”, jawabku santai.
“Ya ngobrol ini itu kan bisa!”, jawab Iswani serius.
“Mbak, ngobrol itu makanan apa? bahannya dari apa?”, tanyaku bercanda.
Bukannya menjawab Iswani malah melompat ke ranjangku yang hanya berjarak setengah meter dari ranjangnya dan tepat berada sisi kiriku. Iswani memasukkan tubuhnya kedalam selimutku dan meremas batang kemaluanku dengan tangan kirinya.
“Mau tahu ngobrol? Eh gemas aku sama kamu, diajak ngomong serius malah bercanda”.
“Aduh, Mbak jangan diremas nanti bisa putus”, cegahku.




Kedua kaki Iswani mengapit kaki kiriku dan wajahnya tepat dimuka wajahku hingga bibirnya berada hanya bebera sentimeter dari bibirku. Pandangan matanya menembus tatapanku menggugah gairahku. Hembusan nafas beratnya sangat terasa oleh bibirku. Tangan kananku yang bebas meremas payudaranya yang masih tersimpan dalam daster tanpa memakai BH. Serangan balasanku dibalasnya dengan memasukkan tangannya kedalam celanaku dan menggegam erat batang kemaluanku. Bibirnya mencumbui bibirku dibarengi dengan hisapan dan permainan lidah. Iswani juga menggeser-geserkan daerah kemaluannya pada paha kiriku. Tanganku melepas cengkeraman pada payudaranya lalu melepas kedua kancing depan dasternya hingga terbukalah kedua payudaranya. Kupindahkan cumbuanku dari bibir ke leher dan akhirnya ke payudaranya. Kukulum kedua punting susunya bergantian. Lanjut baca!


Viral Kisah Gangbang Iswani Bersama 1

Viral Kisah Gangbang Iswani Bersama 1

 Biodataviral.com - Turun dari bus diikuti oleh Iswani tepat dibelakangku, kulihat jamku menunjukkan 8.45. Bergegas menghindar dari calo-calo angkutan umum dan ojek, kearah warung di pinggir terminal lalu duduk sambil memesan kopi panas. Setelah duduk baru aku sadar bahwa Iswani tertinggal agak jauh dan berjalan menuju tempatku dengan agak kesulitan karena tasnya kelihatan berat.


“Tok, gimana sih kamu kok ninggal?”, kata Iswani dengan nada tinggi.
“Bantu bawain tasku juga nggak, kok malah lari!”, lanjutnya.
“Sorry Mbak, aku kan kepingin cepat-cepat minum kopi biar nggak keburu pusing”, sangkalku dengan santai sambil tersenyum kecut.
“Ah, alasan aja kamu, malu ya jalan sama aku?”, tanya Iswani.
“Nggak, malah senang kok Mbak, seperti punya pengawal pribadi”, candaku.
“Eh, enak aja! Habis ini pokoknya kamu bantuin bawa tasku ya!”, dengan nada memaksa.
“Lho Mbak, terus tasku siapa yang bawa?”, tanyaku dengan lagak bodoh.
“Ya kamu bawa sendiri!”, jawabnya bernada cuek.
“Wah capek Mbak!”, rengekku menggoda.
“Gampang, nanti kupijitin, gitu aja kok repot!”, jawab Iswani dengan keras dan bersungut.

Bagai tersambar petir atas reaksinya aku terdiam agak lama, beruntunglah kopiku segera tiba dan kusibukkan diriku dengan kopi panas sambil menghisap rokok. Sementara itu Iswani memesan teh panas dan menuju wastafel lalu membersihkan muka, menyisir rambut dan bersolek dengan santai. Setelah tehnya datang ia kembali ke mejaku dengan wajah lebih segar dan tampak cantik.

Memandang wajah dan tubuhnya yang seksi, terbitlah lamunanku bermesraan dengannya. Bibirnya yang mungil menempel pada bibirku, saling bercumbu dan saling menghisap. Tanganku mengusap payudaranya yang menegang, jari jemariku merasakan puntingnya yang makin mengeras. Tak kuasa menahan godaan dari dadanya kulepaskan cumbuanku dan kuarahkan pada kedua payudaranya. Desahannya makin menjadi, tangannya mendorong kepalaku kearah lebih bawah lagi. Pelan tapi pasti, hisapan bibirku akhirnya sampai pada daerah kemaluannya. Bulu-bulu kemaluannya yang rimbun tak mampu menahan juluran lidahku menembus bibir vaginanya. 




Hisapan dan juluran lidahku yang bergantian menghasilkan pola rangsangan yang tak terbatas nikmatnya pada tubuh Iswani. Erangan dan desahannya bagaikan alunan nada yang membuatku semakin liar. Kedua kakinya semakin membuka, lidahku masuk semakin dalam, tarikan tangannya pada kepalaku semakin kuat untuk menahan bibir dan lidahku agar tak lepas dari lubang kenikmatannya.

Gelinjang di tubuh Iswani makin menjadi dan teriakan keras, “Oh..”, dan.. tenggelamlah lamunanku yang baru terbit oleh tendangan kaki Iswani pada kakiku.
“Ada apa sih Mbak pakai nendang-nendang segala?”, tanyaku jengkel. Lanjut baca!


Viral Ibu Ria Selalu Minta Anusnya di Sodok

Viral Ibu Ria Selalu Minta Anusnya di Sodok

 Biodataviral.com - Aku memang termasuk pria yang aneh. Napsuku hanya pada wanita-wanita STW yang suka mengenakan kebaya dan berkonde. Kadang-kadang waktuku habis ke pesta-pesta pernikahan hanya untuk melihat wanita-wanita yang mengenakan pakaian tersebut. Kalaupun tidak ada pesta penikahan aku pergi ke tempat-tempat hiburan tradisional (ronggeng) dimana para penari dan penyayinya mengenakan kebaya dan berkonde.


Pernah suatu ketika aku pergi ke daerah Karawang untuk mencari hiburan ronggeng dan aku menikamati sekali meskipun harus melihat dandanan yang menor. Kehidupan seperti ini membuatku kadang-kadang tersiksa, tapi itulah kenyataan hidup yang harus aku jalani dan aku nikmati. Seperti kata orang keinginan seperti yang aku alami itu merupakan hal wajar dan sulit untuk diperdebatkan apalagi menyangkut selera. Sebagai manusia normal dan sampai dengan usiaku memasuki kepala empat aku tetap berusaha untuk mendapatkan seorang wanita yang siap menemaniku dan berpakaian serta berdandan sesuai keinginanku.

Aku mencoba untuk memasang iklan melalui kolom iklan baris melalui internet, setelah hampir setahun aku menerima email pertama dari seorang wanita berusia 41 tahun yang menyatakan bahwa dia sangat terharu setelah membaca iklanku dan bersedia untuk menjadi teman saya sekalipun harus mengenakan pakaian dan berdandan sesuai keinginanku, dia juga meninggalkan nomor telepon dan kami berjanji untuk bertemu seminggu kemudian. Berhubung saya sudah beristri dan Ibu Ria (nama samaran) pun telah bersuami saya janji akan menjemputnya di salon di daerah kebayoran baru.

Hari itu adalah hari Sabtu jam 11 siang saya sudah ada di depan salon sesuai janji di telpon dan menunggu bidadariku keluar dari salon. Tepat jam 11.45 Ibu Ria keluar dari salon dan telah berdandan rapih kondenya gede dan licin (konde jawa) dan berkebaya, terlihat sangat anggun dan femimin. Saya mengajak Ibu Ria untuk pergi ke suatu motel daerah Jakarta Selatan agar lebih privacy ngobrolnya dan juga saya bisa sepuasnya memandang sang bidadari.




Sesampai di motel kami mengobrol panjang lebar mengenai kehidupan keluarga masing-masing dan juga kehidupan pribadi kami. Saya menceritakan ke Ibu Ria mengenai keinginan saya dan berterimakasih kepadanya atas kesediaannya untuk menemani saya. Sesudah ngobrol panjang lebar saya meminta Ibu Ria agar saya diperbolehkan untuk mencium keningnya.

Saat saya mencium kenig ternyata tangan saya ditarik untuk memegang susunya yang ternyata mulai mengeras, namun belum sempat membuka kebaya. Saya katakan kepada Ibu Ria bahwa saya sebenarnya hanya mengagumi wanita yang berdandan seperti ini, dan sebatas memandang dan mencium tanda sayang, namun Ibu Ria katakan bahwa justru dia lebih suka dengan pria yang jujur dan tidak grasa grusu dalam masalah sex serta memperlakukan dia dengan lembut. Lanjut baca!


Kenikmatan di Gangbang Cewek Setengah Baya

Kenikmatan di Gangbang Cewek Setengah Baya

 Aopok.com - Sebenarnya jujur aku merasa malu juga untuk menceritakan pengalamanku ini, akan tetapi melihat pada jaman ini mungkin hal ini sudah dianggap biasa. Maka aku beranikan diri untuk menceritakanya kepada para pembaca. Tetapi ada baiknya aku berterus terang bahwa aku menyukai wanita yang lebih tua karena selain lebih dewasa juga mereka lebih suka merawat diri. Aku seorang pria yang suka terhadap wanita yang lebih tua daripadaku.


Dimulai dari aku SMA aku sudah berpacaran dengan kakak kelasku begitu juga hingga aku menamatkan pendidikan sarjana sampai bekerja hingga saat ini. Satu pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika aku berpacaran dengan seorang janda beranak tiga. Demikian kisahnya, suatu hari ketika aku berangkat kerja dari Tomang ke Kelapa Gading, aku tampak terburu-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.45. Sedangkan aku harus sampai di kantor pukul 08.30 tepat. Aku terpaksa pergi ke Tanah Abang dengan harapan lebih banyak kendaraan di sana. Sia-sia aku menunggu lebih dari 15 menit akhirnya aku putuskan aku harus berangkat dengan taxi. Ketika taxi yang kustop mau berangkat tiba-tiba seorang wanita menghampiriku sambil berkata, “Mas, mau ke Pulo Gadung ya?” tanyanya, “Saya boleh ikut nggak? soalnya udah telat nich.”

Akhirnya aku perbolehkan setelah aku beritahu bahwa aku turun di Kelapa Gading. Sepanjang perjalanan kami bercerita satu sama lain dan akhirnya aku ketahui bernama Dewi, seorang janda dengan 3 orang anak dimana suaminya meninggal dunia. Ternyata Dewi bekerja sebagai Kasir pada sebuah katering yang harus menyiapkan makanan untuk 5000 buruh di Kawasan Industri Pulo Gadung. Aku menatap wanita di sebelahku ini ternyata masih cukup menggoda juga. Dewi, 1 tahun lebih tua dari aku dan kulit yang cukup halus, bodi yang sintal serta mata yang menggoda. Setelah meminta nomor teleponnya aku turun di perempatan Kelapa Gading. Sampai di kantor aku segera menelepon Dewi, untuk mengadakan janji sore hari untuk pergi ke bioskop.

Tidak seperti biasanya, tepat jam 05.00 sore aku bergegas meninggalkan kantorku karena ada janji untuk betemu Dewi. Ketika sampai di Bioskop Jakarta Theater, tentunya yang sudah aku pilih, kami langsung antri untuk membeli tiket. Masih ada waktu sekitar 1 jam yang kami habiskan untuk berbincang-bincang satu sama lain. Selama perbincangan itu kami sudah mulai membicarakan masalah-masalah yang nyerempet ke arah seks. 

Tepat jam 19.00, petunjukan dimulai aku masuk ke dalam dan menuju ke belakang kiri, tempat duduk favorit bagi pasangan yang sedang dimabuk cinta. Pertunjukan belum dimulai aku sudah membelai kepala Dewi sambil membisikkan kata-kata yang menggoda. “Dewi, kalau dekat kamu, saudaraku bisa nggak tahan,” kataku sambil menyentuh buah dadanya yang montok. “Ah Mas, saudaranya yang di mana?” katanya, sambil mengerlingkan matanya. Melihat hal itu aku langsung melumat habis bibirnya sehingga napasnya nampak tersengal-sengal. “Mas, jangan di sini dong kan malu, dilihat orang.” Aku yang sudah terangsang segera mengajaknya keluar bioskop untuk memesan taxi. Padahal pertunjukan belum dimulai hanya iklan-iklan film saja yang muncul. Lanjut baca!


Kisah Vicki Di Perkosa Cewek Gangbang 2

Kisah Vicki Di Perkosa Cewek Gangbang 2

 Aopok.com - Tubuhku yang berkeringat itu sedikit terguncang-guncang dalam cengkeraman Pak Gatot. Celana dalamku terasa sangat basah oleh cairan memekku. Saat aku orgasme, Pak Gatot menyedoti kedua putingku bergantian dan meremas-remas gunung kembarku dengan lebih kuat. Jeritanku bertambah keras dan liar karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Untuk beberapa saat orgasmeku berlangsung, dan selama itu pula Pak Gatot tidak pernah menghentikan serangannya terhadap kedua payudara dan putingku yang super sensitif.


Akhirnya orgasmeku usai, dan aku hanya bisa berbaring dengan nafas amat berat dan tersengal-sengal.
“Gila bener kamu Vicki, padahal cuma Bapak mainin buah dada dan puting kamu, ternyata kamu udah orgasme segini hebatnya. Maniak juga kamu ya!” kata Pak Gatot dengan gembira dan bangga.
Aku tersenyum malu dan wajahku memerah mendengar kata ‘maniak’. Senyuman Pak Gatot bertambah lebar melihat ekspresi wajahku.
“Kamu bener-bener menggemaskan dan seksi abis!” katanya lagi.

Kemudian Pak Gatot merangkulku dengan lembut dalam posisi tubuhku masih dibawahnya, keringatku jelas menempel di kaos dan celana panjang Pak Gatot. Aku ingin membalas hangatnya rangkulan Pak Gatot, tapi berhubung masih ‘bau kencur’ dalam urusan seks, aku malu-malu dan hanya diam saja, tapi hatiku berdebar-debar dan ekspresi wajahku menunjukkan kegembiraan.

Pak Gatot mulai bercerita bahwa sudah sejak aku kelas satu ia mengincarku saat melihat aku dalam pelajaran olahraga memakai kaos. Katanya meskipun aku tampak berusaha menggunakan kaos yang agak kelonggaran, ia tahu bahwa payudaraku sangat besar, apalagi porsi tubuhku bisa dibilang agak kurus. Penantian hampir dua tahun tidak sia-sia katanya. Aku sekali lagi hanya bisa tersenyum-senyum kecil dan malu. Pak Gatot juga menambahkan bahwa ia tidak pernah melakukan ‘pemaksaan’ seperti ini terhadap siswi-siswi lainnya. Ia mengaku amat sangat tidak tahan memikirkan kedua buah dadaku ini. Sejak istrinya menopause juga dua tahun yang lalu itu, bayangan sepasang buah dadaku selalu menjadi inspirasi onaninya yang hampir setiap hari katanya. Aku tambah malu rasanya, tapi tidak bisa menyembunyikan senyumku. Dalam hati aku berpikir, meskipun wajah Pak Gatot tidak tampan, sejak itu aku mulai menyukai wali kelasku sendiri itu.

Pak Gatot sempat bertanya apakah aku pernah berhubungan seks. Aku menjawab bahwa pernah beberapa kali dengan mantan pacarku, tapi aku dengan wajah memerah mengaku belum pernah merasa senikmat ini, bahkan hanya sesekali orgasme dengan mantanku itu. Mungkin ia nggak berpengalaman Pak, kataku. Pak Gatot langsung tersenyum lebar, dan mengutarakan kebanggaannya menjadi orang pertama yang bisa memuaskanku dengan amat sangat.

Pak Gatot juga memberitahuku bahwa rumahnya selalu sepi seperti ini, istrinya berangkat kerja dari jam 3 sore sampai sekitar 11 malam, dan sebetulnya tetangga-tetangga sebelah pada perumahan cukup elit seperti ini tidak peduli satu sama lain. Sehingga walaupun aku menjerit-jerit tidak akan ketahuan, apalagi tembok-tembok rumah Pak Gatot sangat tebal dan kokoh.

Saat itu pukul 4:30, udah setengah jam aku di rumah Pak Gatot.
“Vicki, kamu bisa pulang malam kan?” tanya Pak Gatot. “Ya.. bisa aja Pak, tapi jangan sampai kemaleman Pak, nanti ortuku bingung,” jawabku. Lanjut baca!


Kisah Vicki Di Perkosa Cewek Gangbang 1

Kisah Vicki Di Perkosa Cewek Gangbang 1

 Aopok.com - Oh ya, sebelumnya aku beritahu ciri-ciri dan perawakanku. Aku WNI keturunan, berusia 21 tahun saat ini, rambut hitam panjang sampai ke bahu dan agak bergelombang, tinggi 160 cm berat 45 kg. Perawakanku agak kurus, namun payudaraku tergolong besar, 38C. Berhubung tubuhku agak kurus, payudaraku terlihat sangat besar. Apalagi pantatku juga tidak besar, biasa-biasa saja. Ada beberapa teman yang mengatakan potonganku mirip dengan Amy Yip, mantan bintang panas Hongkong. Sejak kecil aku rajin berolahraga, seperti senam-senam sendiri di kamar dan sering sekali membantu ibuku beres-beres rumah sehingga tubuhku terlihat kencang dan padat.


Namun aku tipe cewek yang konservatif, jarang memakai pakaian yang ketat, dan memakai kacamata minus satu, rambut aku kuncir di belakang, sehingga tampaknya tidak terlalu banyak cowok yang mendekatiku. Walaupun saat memakai kaos olahraga pada waktu SMA, para cowok selalu menatap buah dadaku yang menonjol dengan penuh nafsu, sikap dinginku sering membuat mereka malas melakukan pendekatan terhadapku.

Aku kehilangan keperawananku saat SMA kelas 2, berumur 17 tahun oleh pacarku, yang juga WNI keturunan dan merupakan temen kuliah kakak lakiku. Sebetulnya aku tidak berniat pacaran saat itu, namun karena ia sering datang ke rumah dan bercengkerama dengan aku dan kakakku, lama kelamaan kami saling menyukai. Itu merupakan pengalaman pertamaku berpacaran dan karena masih sangat lugu, aku gampang dirayu sehingga mahkotaku direnggutnya. Kemudian selama hampir 3 bulan bermain seks dengan pacarku, aku tidak terlalu menikmatinya, bahkan terkadang sedikit kesakitan saat aku digaulinya. Mungkin karena ia juga tidak terlalu berpengalaman:-)

Setelah putus karena pacarku kepergok kakakku berselingkuh, aku kembali bersikap dingin terhadap cowok. Aku pikir apa enaknya orang pacaran dan ngeseks, ya gitu-gitu aja, tidak seperti yang kudengar dari temen-temen cewekku saat kami bergosip. Aku baru mulai menikmati sampai terjadi peristiwa yang akan kuceritakan di bawah ini.

Saat itu aku duduk di kelas 3 SMA, cawu 1, sudah putus dengan pacar, dan berkonsentrasi untuk kelulusan. Tinggi, berat dan perawakanku hanya terpaut sedikit sekali dengan aku yang sekarang, dan ukuran payudaraku juga sudah 38C pada waktu itu. Aku tergolong murid yang rajin dan nilainya cukup baik, namun pada mata pelajaran eksakta seperti matematika, kimia dan fisika, aku sering kesulitan sampai terkadang stres. Tapi karena dorongan keluargaku yang pas-pasan, aku memilih jurusan IPA karena aku beranggapan jika memilih kuliah seperti di jurusan teknik maka nantinya akan mendapat gaji lumayan bila sudah bekerja.

Dan salah satu kekhawatiranku terbukti, dengan nilai2 ulangan kimiaku super jeblok. Aku khawatir tidak lulus, sehingga pada suatu siang sepulang sekolah, aku memberanikan diri menemui Pak Gatot, guru kimiaku yg juga sekaligus wali kelasku. Pak Gatot berusia 50 tahunan, dari suku Jawa, tingginya sekitar 170-an, dengan perawakan besar dan hitam, wajahnya agak sadis dan tegas, terkenal sebagai guru “killer”, namun kata temen-temen orangnya baik bila ada murid yang minta bantuan. Lanjut baca!


Kekasih Permata Hatiku Minta di Gangbang

Kekasih Permata Hatiku Minta di Gangbang

 Aopok.com - Katakanlah aku Fadly. Aku adalah laki-laki hampir setengah abad yang kuno. Masa mudaku kuhabiskan dengan menjadi aktivis dan aku pun memegang sebuah yayasan sebagai pengurus tetap. Aku menikah dengan istri yang kuno juga dan anakku sudah besar bahkan sudah ada yang kuliah dan bekerja. Aku sering mengajar (utusan yayasanku tentu saja). Banyak muridku dan kenalanku, aku pun sering berpergian ke segala penjuru tanah air. Begitu banyak wanita yang kutemui tetapi tidak pernah terlintas untuk melirik ke wanita lain.

Sampai suatu hari, aku menemui seorang peserta di kelasku berwajah manis, kulit coklat tua, bertubuh tegap, memiliki payudara besar dan pantat yang kencang (belakangan aku tahu dia memang bekas olahragawati). Yang menjadi perhatianku adalah dia alim dan kalem serta serius sekali mengikuti pelajaran dan memang di akhir kursus dia menduduki ranking pertama di kelasnya dan nilai tertinggi selama 15 tahun pendidikan ini dilaksanakan.


Dua tahun tidak kudengar kabarnya, sampai suatu saat kuketahui bahwa tulisan di buletin dengan nama “Dhei” yang selalu kuikuti adalah dia. Dan yang lebih kaget lagi ketika kami memerlukan seorang pengurus pusat yang kosong, 3 orang mengusulkan dia. Singkatnya, jadilah dia pengurus dan 2 tahun kemudian dia menikah serta memiliki seorang anak balita. Kami sering bersama-sama dan sering ke luar kota bersama (suaminya bekerja di kota lain) dan lama kelamaan kami bagaikan 2 orang sahabat, padahal usianya 15 tahun lebih muda. Kami saling berbagi cerita sampai akhirnya masalah sexualitas. Kukatakan padanya bahwa aku sering gagal dalam bercinta karena aku “peltu” (nempel metu), ejakulasi dini. Mendengar itu dia hanya tersenyum. Mungkin karena tekanan pekerjaanku dan banyaknya problem, aku merasa sudah 10 tahun menjadi “peltu”.

Suatu hari di kota B, pengurus lain sudah tidur, kami masih mengobrol. Kulihat dia agak pincang, rupanya terkilir dan terlalu lelah. Kucoba mengurutnya sedikit di kamarnya, memang sakit luar biasa. Dhei sosok agak tomboy, gemar t-shirt dan celana pendek sewaktu santai. Setelah mengurut kakinya, dia melanjutkan bekerja dengan note-book sambil menonton TV, aku pun merasa ngantuk dan tanpa kusadari aku tertidur di kasurnya. Aku terbangun hampir 2 jam kemudian dengan posisi telungkup dan tanganku melingkar di pinggang Dhei (saat itu dia sudah di sampingku duduk menonton TV). Ketika tahu aku terbangun, dia menggodaku, “Mas Mas, maaf yang punya badan belum pulang kampung.” Kami pun tertawa, tiba-tiba entah setan apa, aku duduk di sampingnya dan langsung kutarik wajahnya dan kukecup keningnya, perlahan-lahan turun ke bibirnya. Dhei membalas mengulum bibirku dengan lembut. Langsung darahku bergejolak karena aku ini cuma manusia kuno, berciuman pun jarang.

Dhei membuka celanaku perlahan-lahan dan dia pun membuka celananya. Kami masih sama-sama mengenakan t-shirt. Tiba-tiba aku teringat dengan “peltu”-ku dan benar saja, ketika penisku menempel pahanya, aku sudah mau meledak hingga akhirnya keluar dalam waktu hanya berciuman 2 menit. Betapa kecewanya aku, mungkin juga dia. Padahal penisku tidak kecil, diameter 3 cm, panjang 17 cm. Kusembunyikan wajahku di samping wajahnya (saat itu aku masih di atasnya), namun Dhei berkata sambil memelukku, “Mas, kita coba lagi yah, kapan-kapan, dalam suasana yang lebih rileks.”

Tiga bulan kami tidak pernah membicarakan hal itu, hanya saja dia kelihatan ceria dan sering mencuri cium kepadaku. Aku senang melihat semangatnya, sampai suatu hari tiba saatnya kami harus ke luar kota lagi. Acara di sana 2 malam, tapi Dhei mengajakku untuk tinggal lebih lama dengan tanggungan sendiri tentunya. Dengan segala alasan, kami pun berpisah dengan rombongan. Dhei memilih hotel baik dan berbintang. Begitu kami sudah rileks di kamar, dia mengajakku untuk mandi sama-sama. Darahku mulai bergejolak lagi. Aku tidak pernah mandi dengan istriku kecuali ia menyekaku 1 kali waktu aku sakit. Aku disuruhnya ke kamar mandi lebih dahulu, setelah hampir 10 menit baru dia menyusul. Bagaikan memandikan seorang bayi, dia membersihkan setiap celah yang ada di tubuhku dan menyuruhku menggosok gigi. Dhei pun melakukan hal yang sama. Kurasakan penisku sudah menantang dan sudah ingin meledak lagi. Tetapi Dhei tidak menyentuhnya atau melakukan apapun yang bersifat merangsang. Seperti acuh tak acuh saja.

Keluar dari kamar mandi, aku terkejut karena sprei sudah diganti dengan bahan seperti perlak bahkan dilapisi lagi sebuah plastik yang diberi karet sudutnya seperti sprei agar bisa disangkutkan di kasur. Aku langsung bertanya, “Eyik, kamu mau bikin apa sama Mas?” Dhei hanya tersenyum dan berkata, “Mau bikin Mas Ai santai. Jangan khawatir, Eyik nggak akan bikin sakit, kok.” Dhei mematikan AC dan membuka jendela (kami di lantai 11). Lalu aku direbahkannya, dia mengambil cream yang bila terkena air berbusa seperti sabun. Di samping tempat tidur sudah ada botol mineral 600 ML sebanyak 4 botol. Digosok-gosokkannya cream yang sudah terkena air ke tubuhku dan tubuhnya bagian depan. Lanjut baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia